LAPORAN KHUSUS: TRAGEDI SEMARANG
SEMARANG, HR,ID – Keheningan malam di Jalan dr. Suratmo, Manyaran, Semarang Barat, pecah menjadi duka mendalam bagi keluarga besar SMK Negeri 4 Semarang. Insiden penembakan yang menewaskan seorang siswa berinisial GRO (17) oleh oknum anggota Satresnarkoba Polrestabes Semarang kini memicu gelombang desakan transparansi hukum di Jawa Tengah.
Kronologi Peristiwa
Peristiwa bermula pada Minggu dini hari (24/11/2024) sekitar pukul 01.00 WIB. Berdasarkan keterangan awal pihak kepolisian, Aipda R yang saat itu sedang melintas mengklaim melihat kerumunan remaja yang diduga terlibat aksi tawuran antar-kelompok atau gangster.
Dalam upaya pembubaran tersebut, Aipda R melepaskan tembakan menggunakan senjata api dinas. Peluru mengenai bagian pinggul hingga menembus perut korban. Meski sempat dilarikan ke RSUP dr. Kariadi, GRO dinyatakan meninggal dunia akibat pendarahan hebat.
Fakta-Fakta Kunci yang Terhimpun:
Status Korban: GRO merupakan siswa aktif SMKN 4 Semarang dan anggota Paskibra sekolah. Pihak sekolah menegaskan tidak ada catatan perilaku menyimpang atau keterlibatan korban dalam aksi kriminal sebelumnya.
Tindakan Kepolisian: Polda Jawa Tengah telah menahan Aipda R. Pemeriksaan difokuskan pada apakah penggunaan senjata api sudah sesuai dengan Perkap Nomor 1 Tahun 2009 tentang Penggunaan Kekuatan dalam Tindakan Kepolisian.
Dugaan Excessive Force: Kompolnas dan beberapa lembaga swadaya masyarakat (LSM) menyoroti adanya dugaan penggunaan kekuatan berlebihan dalam menangani remaja yang belum tentu membahayakan nyawa petugas secara langsung.
Pernyataan Pihak Terkait
Kabid Humas Polda Jateng dalam keterangan resminya menyatakan permohonan maaf dan komitmen untuk mengusut tuntas kasus ini secara transparan.
"Kami tidak akan menutup-nutupi. Jika ada prosedur yang dilanggar, baik etik maupun pidana, oknum yang bersangkutan akan diproses sesuai hukum yang berlaku," tegasnya.
Di sisi lain, keluarga korban didampingi kuasa hukum menuntut rehabilitasi nama baik GRO. Mereka menolak narasi bahwa GRO adalah bagian dari "gangster" dan meminta kepolisian memberikan bukti nyata jika memang ada ancaman senjata tajam yang diarahkan kepada petugas sebelum penembakan terjadi.
Dampak Sosio-Hukum
Kasus ini kembali membuka diskusi
publik mengenai perlunya evaluasi penggunaan senjata api oleh personel
kepolisian di lapangan, terutama saat berhadapan dengan anak di bawah umur.
Ribuan pelayat, termasuk rekan sekolah korban, turut mengantarkan jenazah GRO
ke tempat peristirahatan terakhir sebagai bentuk solidaritas.
Red: (MHR)


0 Please Share a Your Opinion.:
Diharap Memberi Komentar Yang Sopan & Santun
Terimakasih Atas Partisipasi Mengunjungi Web Kami