Tuesday, April 14, 2026

Kisah Said Didu Dicopot Karena Kritik Kebijakan Jokowi Terkait Kontrak Freeport hingga 2041

Kisah Said Didu Dicopot Karena Kritik Kebijakan Jokowi Terkait Kontrak Freeport hingga 2041

Oleh: Andi Ms Hersandy

Said Didu Dicopot dari Komisaris PT Bukit Asam? Ini Kisah Cuitan Soal Freeport yang Jadi Sorotan

Kisah cuitan Said Didu soal Freeport yang viral dan dikaitkan dengan pencopotannya dari Komisaris PT Bukit Asam. Simak fakta, kronologi, dan analisis lengkapnya.

Siapa Said Didu dan Mengapa Jadi Sorotan?

Nama Said Didu kembali ramai diperbincangkan publik setelah muncul kabar bahwa dirinya dicopot dari jabatan Komisaris di PT Bukit Asam (PTBA). Isu ini menjadi perhatian karena dikaitkan dengan sikap kritisnya di media sosial, khususnya terkait pengelolaan tambang Freeport Indonesia.

lahir di Pinrang-Sulawesi Selatan pada 2 Mei 1962 ini meraih pendidikan tinggi S2 di Teknik Industri, Institut Pertanian Bogor pada tahun 1996 dan S3 System Engineering, Institut Pertanian Bogor pada tahun 2000. Menjadi komisaris PTBA menggantikan Thamrin Sihitie pada Maret 2015 . Said Didu terpilih dalam RUPST 2015 yang digelar di Hotel JS Luwansa ketika itu. Said Didu pernah menjabat sebagai Sekretaris Kementerian BUMN (2005-2010), Dewan Pengawas BLU Rumah Sakit RSCM (2007-2011), Komisaris Utama PTPN IV (Persero) (2006-2019), Komisaris Utama PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) (2008-2011), Anggota MPR-RI (1997-1999), Komisaris Utama PT Asuransi Jiwa Inhealth Indonesia, Direktur Teknologi Agroindustri, BPPT.

Sebagai tokoh yang dikenal vokal, Said Didu kerap menyampaikan pandangan tajam mengenai kebijakan ekonomi dan pengelolaan sumber daya alam di Indonesia dimasa era pemerintahan Jokowi.

Baca Juga: 

Kisah Sorotan SBY ke Said Didu Soal Freeport 2018: Polemik Cuitan yang Membuat Said Dicopot

Berbagai kalangan yang saat itu membahas dokumen kontrak, soal hukum yang membelenggu Indonesia. Katanya, sangat Ribet, karena kontrak habis tahun 2021 namun pemerintah Jokowi memperpanjang hingga 2041, dan Freeport girang.

Dari dampak lingkungan Freeport yang senilai Rp 185 Triliun lalu membandingkannya dengan  emas di Freeport, apakah masih banyak ? apalagi tambang emas di gunung yang terbuka sudah mulai habis terkuras.

Said Didiu

Di twiter Said Didu menulis; "Hari ini (Jumat 28 Desember 2018) saya merasa terhormat karena digelar RUPS luarbiasa dengan agenda tunggal mencopot saya. Alasannya karena sudah tidak sejalan dengan menBUMN"

BUMN diharapkan menjadi badan bisnis yang profesional, diisi oleh orang orang yang kompeten. Tetapi di era.Jokowi, banyak relawan yang ditempatkan sebagai komisaris, padahal BUMN bukan milik Jokowi tapi milik negara?

Sementara kementerian BUMN juga banyak menempatkan staff yang rangkap jabatan, sehingga tetap bisa mengendalikan BUMN? Rangkap jabatan ini sudah dikritik oleh Ombudsman tetapi dicuekin.

Makanya beberapa hari saat itu terliat Jokowi banyak tampil di TV berbagai stasiun an.BUMN dengan menceritaakan kebanggan Indonesia membeli sham Freport hingga 50% dan memperpanjangnya hingga 20140 padahal mestinya kontrak Freeport sudah berakhir tahun 2021

Jadi ingat hadist, jika suatu urusan tidak diserahkan pada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya..

Profesionalisme, kompetensi, independensi, kritis di era ini tampaknya berubah jadi loyalist, puja puji penguasa, menyerang personal oposisi tanpa substansi, kriminalisasi ulama, pakar, tenaga Ahli?

Kronologi Cuitan Said Didu Soal Freeport

Perbincangan bermula dari cuitan Said Didu yang menyoroti berbagai aspek pengelolaan Freeport. Dalam cuitannya, ia menyinggung isu strategis seperti:

Kedaulatan sumber daya alam

Transparansi pengelolaan tambang

Peran negara dalam penguasaan aset strategis

Cuitan ini dengan cepat viral dan memicu perdebatan di publik. Banyak yang mendukung karena dianggap berani, namun tak sedikit pula yang mengkritik karena dinilai sensitif.

Diketahui, pada malam sebelum penyelenggaraan RUPSLB Bukit Asam, Said memberikan kuliah lewat Twitter (kultwit) terkait divestasi saham PT Freeport Indonesia. Ada 100 kultwit Said Didu yang mengkritisi keputusan pemerintah membeli saham PT Freeport Indonesia

Benarkah Dicopot dari Komisaris PT Bukit Asam?

Kabar pencopotan Said Didu dari PT Bukit Asam langsung dikaitkan dengan cuitannya soal Freeport Indonesia.

Namun perlu dipahami, dalam struktur BUMN, pergantian komisaris adalah hal yang wajar dan dapat terjadi karena berbagai alasan, seperti:

Evaluasi kinerja

Restrukturisasi perusahaan

Kebijakan pemegang saham

Hingga saat pemerintahan beralih, belum ada pernyataan resmi yang disampaikan oleh Menteri BUMN dan Juga Jokowi secara langsung mengaitkan pencopotan tersebut dengan aktivitas media sosial Said Didu namun dibeberapa pernyataan yang disampaikan oleh Said Didu meyakini pencopotan itu terkai kritikannya.

Analisis: Dampak Cuitan di Era Digital

Kasus ini menunjukkan bahwa satu cuitan dapat berdampak besar, terutama jika datang dari tokoh publik. Ada dua sudut pandang utama:

1. Kebebasan Berpendapat

Sebagai warga negara, setiap individu berhak menyampaikan pendapat, termasuk kritik terhadap kebijakan.

2. Tanggung Jawab Jabatan

Namun menurut para loyalitas Jokowi kala itu, bagi pejabat atau komisaris BUMN, setiap pernyataan dapat berdampak pada citra perusahaan dan pemerintah.

Keseimbangan antara keduanya menjadi isu penting dalam era digital saat ini.

Kisah Said Didu dan cuitannya soal Freeport Indonesia menjadi contoh nyata bagaimana dinamika media sosial dapat berpengaruh pada persepsi publik, bahkan dikaitkan dengan posisi strategis seperti Komisaris PT Bukit Asam.

Terlepas dari benar atau tidaknya keterkaitan tersebut, peristiwa ini menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam komunikasi publik, khususnya bagi tokoh berpengaruh.

 

Sunday, April 12, 2026

Kisah Sorotan SBY ke Said Didu Soal Freeport 2018: Polemik Cuitan yang Membuat Said Dicopot

Kisah Sorotan SBY ke Said Didu Soal Freeport 2018: Polemik Cuitan yang Membuat Said Dicopot

Oleh: Andi Ms Hersandy  

Said Didu -Property CNN

Cuitan Said Didu Soal Freeport Indonesia: Kronologi, Fakta, dan Analisis Pencopotan dari PT Bukit Asam

Kronologi lengkap cuitan Said Didu soal Freeport, isi kritiknya, serta analisis apakah benar terkait pencopotannya dari Komisaris PT Bukit Asam.

Kronologi Cuitan Said Didu Soal Freeport

Nama Said Didu sempat menjadi sorotan publik pada akhir 2018 setelah menyampaikan rangkaian cuitan di media sosial terkait pengelolaan tambang Freeport Indonesia.

Dalam cuitannya, Said Didu mengulas secara rinci proses pengambilalihan saham Freeport oleh pemerintah Indonesia. Ia menyoroti berbagai aspek penting yang dianggap perlu dikaji secara lebih transparan.

Tak lama setelah cuitan tersebut viral, muncul kabar bahwa dirinya dicopot dari jabatan Komisaris di PT Bukit Asam.

Isi Cuitan Said Didu: Sorotan terhadap Kebijakan Freeport

Dalam rangkaian cuitannya, Said Didu menyampaikan sejumlah poin penting, di antaranya:

Mekanisme pembelian saham Freeport

Nilai transaksi yang dianggap perlu transparansi

Dampak kebijakan terhadap keuangan negara

Peran pemerintah dalam pengelolaan sumber daya alam

Cuitan ini kemudian menyebar luas dan memicu diskusi publik, baik yang mendukung maupun yang mengkritik pandangannya.

Benarkah Said Didu Dicopot karena Cuitan?

Salah satu pertanyaan yang paling banyak muncul adalah apakah pencopotan Said Didu dari PT Bukit Asam berkaitan langsung dengan kritiknya terhadap Freeport.

Secara waktu, kedua peristiwa tersebut memang terjadi dalam rentang yang sangat berdekatan. Namun, hingga kini tidak ada pernyataan resmi yang secara tegas menyebutkan bahwa pencopotan tersebut disebabkan oleh cuitannya.

Dalam konteks BUMN, pergantian komisaris dapat terjadi karena berbagai faktor, seperti:

Evaluasi kinerja

Kebijakan pemegang saham

Kebutuhan restrukturisasi perusahaan

Analisis: Antara Kritik Publik dan Posisi Strategis

Kasus ini menjadi contoh menarik mengenai hubungan antara kebebasan berpendapat dan posisi seseorang dalam jabatan strategis.

Sebagai tokoh publik, Said Didu memiliki hak untuk menyampaikan pendapat. Namun di sisi lain, pernyataan tersebut juga dapat berdampak pada persepsi publik terhadap institusi yang terkait.

Isu Freeport Indonesia sendiri memang sangat sensitif, karena menyangkut:

Kepentingan nasional

Pengelolaan sumber daya alam

Kedaulatan ekonomi Indonesia

Update Terbaru: Posisi Said Didu dan Isu Freeport

Baca Juga: 

Prabowo sebut ada yang haus kekuasaan dan Sering Ngintelin Lawan Politik, Siapa dia ?

Dalam perkembangan terbaru, Said Didu masih dikenal sebagai sosok yang aktif menyampaikan kritik terhadap berbagai kebijakan publik, khususnya di bidang ekonomi dan sumber daya alam.

Sementara itu, isu pengelolaan Freeport tetap menjadi topik strategis nasional yang terus berkembang, terutama terkait kontribusinya terhadap perekonomian Indonesia.

Dampak Cuitan terhadap Opini Publik

Cuitan Said Didu tidak hanya menjadi perbincangan sesaat, tetapi juga berdampak pada meningkatnya perhatian masyarakat terhadap isu Freeport.

Beberapa dampak yang muncul antara lain:

Meningkatnya kesadaran publik terhadap pengelolaan tambang

Munculnya diskusi mengenai transparansi kebijakan

Perdebatan mengenai peran pemerintah dalam sektor strategis

FAQ (Pertanyaan yang Sering Dicari)

Apa isi cuitan Said Didu soal Freeport?

Cuitannya membahas proses pengambilalihan saham Freeport, termasuk aspek transparansi dan dampaknya terhadap keuangan negara.

Apakah Said Didu dicopot karena kritiknya?

Tidak ada pernyataan resmi yang memastikan hal tersebut, meskipun waktunya berdekatan.

Mengapa isu Freeport penting?

Karena berkaitan dengan pengelolaan sumber daya alam dan kepentingan ekonomi nasional.

Kasus cuitan Said Didu soal Freeport Indonesia menunjukkan bagaimana satu pernyataan di media sosial dapat memicu diskusi nasional yang luas.

Terlepas dari pro dan kontra, peristiwa ini menegaskan pentingnya transparansi, akuntabilitas, dan komunikasi publik dalam pengelolaan aset strategis negara.

Namun yang jadi seru saat itu terdapat cuitan Susilo Bambang Yudhoyono yang menyoroti Said Didu soal Freeport kembali jadi perhatian.

Simak kronologi, isi pernyataan, dan analisis lengkapnya.

Kronologi Cuitan SBY dan Said Didu Soal Freeport

Isu pengelolaan tambang Freeport Indonesia kembali menjadi sorotan publik setelah sejumlah tokoh nasional menyampaikan pandangannya melalui media sosial. Dua di antaranya adalah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Said Didu.

Cuitan yang disampaikan keduanya menyinggung berbagai aspek penting, mulai dari kebijakan pemerintah, transparansi pengelolaan sumber daya alam, hingga kepentingan nasional dalam penguasaan aset strategis.

Isi Cuitan SBY: Kritik Kebijakan dan Transparansi

Susilo Bambang Yudhoyono pernah menyampaikan pandangannya terkait kebijakan ekonomi dan pengelolaan aset negara, termasuk Freeport. Dalam pernyataannya, SBY menekankan pentingnya:

Transparansi dalam pengambilan keputusan

Akuntabilitas pengelolaan aset negara

Kepentingan jangka panjang bagi rakyat Indonesia

Cuitan tersebut memicu diskusi luas karena dianggap sebagai kritik halus terhadap kebijakan pemerintah saat itu.

Cuitan Said Didu: Soroti Detail Kebijakan Freeport

Sementara itu, Said Didu lebih vokal dalam menyampaikan kritiknya. Ia bahkan membuat rangkaian cuitan (thread) yang membahas secara rinci proses pengambilalihan saham Freeport Indonesia oleh pemerintah Indonesia.

Beberapa poin yang disorot Said Didu antara lain:

Mekanisme pembelian saham

Nilai ekonomi yang dianggap perlu dikaji ulang

Dampak jangka panjang terhadap keuangan negara

Cuitan ini kemudian viral dan memicu perdebatan publik.

Dampak Cuitan: Dari Diskusi Publik hingga Polemik

Cuitan dari Susilo Bambang Yudhoyono dan Said Didu tidak hanya berhenti sebagai opini di media sosial, tetapi berkembang menjadi polemik nasional.

Beberapa dampak yang muncul:

Meningkatnya perhatian publik terhadap pengelolaan Freeport

Munculnya perdebatan antara pro dan kontra kebijakan pemerintah

Tekanan terhadap transparansi dalam pengelolaan BUMN

Analisis: Antara Kritik dan Kepentingan Nasional

Kasus ini menunjukkan bahwa media sosial kini menjadi ruang penting bagi tokoh publik untuk menyampaikan pandangan strategis. Kritik dari tokoh seperti SBY dan Said Didu dapat:

Mendorong transparansi

Menjadi kontrol sosial terhadap kebijakan pemerintah

Memicu diskusi publik yang lebih luas

Namun di sisi lain, pernyataan tersebut juga dapat memicu polemik jika tidak disertai dengan data yang lengkap atau dipahami secara utuh oleh masyarakat.

Kesimpulan

Polemik cuitan Susilo Bambang Yudhoyono dan Said Didu soal Freeport Indonesia menunjukkan betapa pentingnya transparansi dan komunikasi publik dalam pengelolaan sumber daya strategis.

Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa di era digital, satu cuitan dapat berdampak besar—baik dalam membangun kesadaran publik maupun memicu perdebatan nasional.


  1. Tweets

    1. . Sesuai janji saya, saya buat kultwit tentang pembelian saham PT Freeport oleh PT Inalum yg diumumkan pemerintah dan freeport tgl 21 Desember 2018. Kultwit ini merupakan lanjutan kultwit ttg freeport sebelumnya yg saya berikan hastag .
  2. Saya baru membaca kultwit Pak Said Didu ttg isu divestasi saham Freeport. Penjelasan yg sangat informatif, utuh, mendidik, "fair & balanced" *SBY*
  3. Pak Said Didu memahami kompleksitas permasalahan & dilema yg dihadapi setiap pemerintahan dlm menetapkan pilihan & kebijakan *SBY*
  4. Pak Said Didu secara implisit juga mengatakan setiap pemerintah ingin tetapkan pilihan yg tepat & berbuat yg terbaik bagi bangsa & negaranya *SBY*
  5. Karenanya, Bapak Said Didu tak mau & tak gegabah menyalahkan kebijakan pemerintah manapun, termasuk pemerintahan Pak Harto, SBY & Pak Jokowi *SBY*
  6. Saya menaruh rasa hormat. Bapak Said Didu telah ambil risiko dgn "telling the truth". Saya tahu iktikad Bapak baik. Tuhan, Allah SWT mencatatNya *SBY*
  7. Pak Said Didu juga telah berikan pelajaran berharga: "Tidak selalu MEMBENARKAN YG KUAT, tetapi berani PERKUAT KEBENARAN" *SBY*
  8. Beberapa kali pa tuit tentang bpk .. respect 👍🙏

  9. Betul, saya lbh baik kehilangan 100 jabatan daripada kehilangan 1 nilai integritas dan kemerdekaan bersuara

  10. Kalau jalan pemegang saham merusak BUMN siapapun harus melawan dan mengkritisi - saya tdk akan diam baik di dalam maupun di luar. Saya tidak punya bakat jadi penjilat demi jabatan.

  11. Kalau itu penyebabnya maka BUMN sdh digunakan untuk kepentingan politik - ini tidak boleh. Saya skrg awasi karyawan dan pimpinan BUMN yg jadi alat politik

  12. Kalimat terakhir SALAH !!!

  13. Replying to
    Rezim sontoloyo orang2 yg hebat2 dan anti korupsi semuanya diperhentikan. Orang yg suka jualin aset negara,hobby ngutang dan dungu diprlihara! Pantesan saja Indonesia makin terpuruk.
  14. Saya akan kritisi siapapun yg kebijakannya merusak BUMN dan atau merusak Negara. Bisa dibalik juga dong masa digaji negara utk merusak BUMN atau merusak Negara ?

  15. Saya selalu bertindak menjaga kerusakan terhadap BUMN. Kalau yg merusak adalah pemerintah maka saya akan kritisi juga. BUMN itu milik NEGARA bukan milik PENGUASA. smg paham

Hukum

Kesehatan

»

Serba Serbi