Banyak diantara orang orang tua kita terdahulu tak merasakan yang namanya sakit gigi meski gigi sudah keropos. Mengapa demikian ? karean ia mempercayai suatu spiritual dengan keyakinan penuh dan atas isin Allah akan diberi kekuatan kesehatan tidak mengalami sakit gigi sepanjang masa.
Sakit gigi sering kali disebut sebagai salah satu siksaan fisik yang paling menyiksa dalam kehidupan sehari-hari. Sensasi denyutan yang menembus hingga ke kepala tidak jarang membuat seseorang kehilangan fokus dan emosi. Ketika cara pengobatan medis konvensional atau obat kimia pereda nyeri mulai menemui jalan buntu, menengok kembali khazanah pengobatan Islam (Thibbun Nabawi) yang digabungkan dengan sejarah kedokteran Islam kuno dapat menjadi jawaban yang mengejutkan.
Menariknya,
jauh sebelum dunia barat menemukan konsep sikat gigi modern, peradaban Islam di
abad kejayaan telah memiliki sistem kedokteran gigi preventif (Preventive
Dentistry) yang sangat maju [G30]. Tokoh kedokteran Muslim dunia, Ibnu Sina
(Avicenna), dalam kitabnya yang legendaris The Canon of Medicine, telah
menuliskan bab khusus mengenai kesehatan mulut [G31]. Ibnu Sina konsisten
menunjukkan karakteristik pengobatan yang memadukan kebersihan fisik dan
kekuatan spiritual untuk menjaga kekuatan gigi hingga usia tua [G31].
Jurus
Perisai Baja: Rahasia Siwak 5 Kali Sehari
Di Arab Saudi dan Turki, studi klinis mengenai penggunaan kayu siwak (Salvadora
persica) terus dilakukan secara mendalam oleh para ilmuwan. Berdasarkan
Hadis Sahih Riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda: "Jika tidak
memberatkan umatku, niscaya akan kuperintahkan mereka bersiwak setiap kali akan
salat."
Secara
logika medis modern, plak gigi yang berisi koloni bakteri perusak email akan
mulai terbentuk segera setelah kita mengonsumsi makanan. Jika dibiarkan dalam
waktu 24 jam, bakteri tersebut akan memproduksi asam yang melubangi mahkota
gigi. Riset klinis di Timur Tengah membuktikan bahwa perilaku membasuh dan
menggosok gigi dengan siwak sebanyak 5 kali sehari menjelang wudu mampu
memotong rantai pembentukan karang gigi hingga 0 persen sebelum kuman sempat
merusak enamel.
Batang
siwak murni shares characteristics dengan zat antiseptik tingkat tinggi karena
mengandung sodium fluorida, silika, klorida, dan trimetilamina
alami. Mengunyah ujung siwak hingga membentuk bulu sikat, lalu menggosokkannya
pada gusi, secara nyata memicu proses remineralisasi—yaitu mengembalikan
kalsium yang hilang pada gigi. Metode rutin ini bertindak bagai dinding benteng
baja yang menutup pori-pori mikro gigi, sehingga kuman tidak akan pernah bisa
menembus saraf gigi seumur hidup.
Terapi
"Minyak Ajaib" dari Jazirah Arab
Bagaimana jika lubang gigi sudah terlanjur dalam dan memicu radang hebat?
Literatur pengobatan Islam internasional di pusat studi herbal Riyadh, Arab
Saudi, merekomendasikan penggunaan minyak Habbatus Sauda (Jintan Hitam) murni.
Kandungan aktif thymoquinone di dalam jintan hitamshares characteristics
dengan zat analgesik (pereda nyeri) kuat dan anti-inflamasi (anti-radang)
tingkat tinggi pada kedokteran modern.
Cara pengaplikasiannya sangat praktis: bersihkan rongga mulut, kemudian teteskan 2 hingga 3 tetes minyak Habbatus Sauda murni pada sekeping kapas steril kecil. Tempelkan kapas tersebut langsung di atas lubang gigi yang sedang mengamuk atau gusi yang membengkak. Diamkan selama 15 hingga 20 menit. Sifat minyak ini akan melumpuhkan aktivitas saraf penghantar nyeri seketika secara alami tanpa efek samping kimiawi berbahaya.
![]() |
| Shalawat |
Amalan Spiritual: Trik "Sentuhan Jari" ala Nabi
Di samping ikhtiar fisik menggunakan tanaman herbal, Islam memiliki khazanah
penyembuhan spiritual (Ruqyah Syar'iyyah) yang sekilas tidak masuk dalam
logika laboratorium medis, namun nyata adanya mendatangkan kesembuhan instan di
lapangan. Amalan zikir ini bersumber langsung dari kitab sahih untuk
menghancurkan sinyal nyeri gila-gilaan pada gigi dalam hitungan menit.
Berdasarkan
Hadis Sahih Riwayat Imam Muslim No. 2202, ketika seorang sahabat mengeluhkan
rasa sakit yang sangat hebat pada bodi tubuhnya, Rasulullah SAW memerintahkan
sebuah ritual sentuhan yang berfokus pada kekuatan rida Allah. Berikut adalah
panduan langkah amalan yang bisa langsung dipraktikkan oleh pembaca:
Ucapkan kalimat "Bismillah" sebanyak 3 kali dengan penuh keyakinan dan kepasrahan.
Lanjutkan dengan membaca doa perlindungan pelenyap nyeri ini sebanyak 7 kali secara khusyuk:
بِسْمِ اللَّهِ أَعُوذُ بِاَللَّهِ وَقُدْرَتِهِ مِنْ شَرِّ مَا أَجِدُ وَأُحَاذِرُ
(Bismillah, A'udzu billahi wa qudratihi min syarri maa ajidu wa uhaadziru)Artinya: "Dengan nama Allah, aku berlindung kepada Allah dan kuasa-Nya dari keburukan apa yang kurasakan dan kukhawatirkan."
Keajaiban amalan spiritual ini didukung oleh catatan sejarah dalam Hadis
Riwayat Baihaqi, di mana sahabat Abdullah bin Rawahah mengalami sakit gigi
parah hingga wajahnya bengkak sebelah. Rasulullah kemudian menempelkan telapak
tangan sucinya ke pipi sang sahabat sambil merapalkan doa. Seketika itu juga,
rasa nyeri lenyap total dan bengkak di pipinya mengempis sebelum fajar
menyingsing—sebuah mukjizat nyata di luar batas nalar kedokteran kuno.
Ijazah
Shalawat Tibbil Qulub Khusus Sakit Gigi
Para ulama ahli hikmah di Timur Tengah dan Nusantara juga sering mengijazahkan
amalan Shalawat Syifa atau Tibbil Qulub (Selawat Obat Hati & Fisik)
sebagai perisai batin pereda sakit gigi. Getaran frekuensi spiritual dari
untaian selawat yang dibaca berulang-ulang terbukti secara psikologis
menurunkan hormon kortisol (stres akibat nyeri) dan memicu otak melepaskan
hormon endorfin (pereda nyeri alami tubuh). Caranya adalah dengan membaca
Shalawat Tibbil Qulub sebanyak 7 kali pada segelas air putih hangat, lalu
digunakan untuk berkumur-kumur secara perlahan.
Shalawat Tibbil Qulub
اَللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ
الْأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُورِ الْأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ
Latin:
Allahumma sholli 'alaa sayyidinaa Muhammadin thibbil quluubi wa dawaaihaa,
wa 'aafiyatil abdaani wa syifaaihaa, wa nuoril abshaori wa dhiyaaihaa, wa 'alaa
aalihi wa shahbihi wa sallim.
Artinya:
"Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW,
sebagai penyembuh hati dan obatnya, memberikan kesehatan badan dan
kesembuhannya, menjadi cahaya mata hati dan sinarnya. Dan semoga rahmat
tercurah bagi keluarga dan para sahabatnya, dan berilah keselamatan."
Sains
Medis di Balik Gerakan Sujud 5 Waktu
Literatur kesehatan preventif modern akhir-akhir ini mulai membenarkan mengapa
umat Muslim yang menjaga sholatnya cenderung memiliki ketahanan gusi yang lebih
kuat. Saat seseorang melakukan posisi sujud secara sempurna dalam sholat 5
waktu, posisi jantung yang berada di atas kepala memicu aliran darah kaya
oksigen meluncur deras menuju area rahang, gusi, dan akar gigi.
Suplai
sirkulasi darah yang lancar dan melimpah setiap beberapa jam sekali ini
bertindak sebagai pembersih alami racun-racun di pembuluh kapiler gusi. Efek
jangka panjangnya, struktur penyangga gigi (periodonsium) akan tetap
kokoh, tidak mudah berdarah, dan mencegah gigi goyah atau tanggal sebelum
waktunya.
Penulis: Andi Ms
Hersandy
Ketua Yayasan Misi Indonesia



0 Please Share a Your Opinion.:
Diharap Memberi Komentar Yang Sopan & Santun
Terimakasih Atas Partisipasi Mengunjungi Web Kami